Ada masa ketika pameran arsitektur identik dengan deretan booth formal, katalog produk, dan percakapan teknis yang hanya dipahami kalangan industri. Namun beberapa tahun terakhir, format itu perlahan berubah. Pameran tidak lagi hanya menjadi tempat memamerkan produk, melainkan ruang pertemuan yang lebih cair: antara brand dan publik, desainer dan seniman, industri dan pengalaman sehari-hari. ARCH:ID tahun […]

Ada masa ketika pameran arsitektur identik dengan deretan booth formal, katalog produk, dan percakapan teknis yang hanya dipahami kalangan industri. Namun beberapa tahun terakhir, format itu perlahan berubah. Pameran tidak lagi hanya menjadi tempat memamerkan produk, melainkan ruang pertemuan yang lebih cair: antara brand dan publik, desainer dan seniman, industri dan pengalaman sehari-hari.

ARCH:ID tahun ini memperlihatkan bagaimana perubahan itu berlangsung semakin jelas. Bukan hanya lewat skala pamerannya, tetapi melalui cara membaca perilaku pengunjung hari ini. Orang datang ke pameran tidak melulu untuk melihat produk baru. Kebanyakan dari mereka ingin mengalami sesuatu, berinteraksi, beristirahat, bahkan merasa menjadi bagian dari percakapan yang lebih besar.

Di tengah situasi itu, muncul beberapa pola yang menarik untuk dibaca.

Kolaborasi yang Melampaui Industri

Kolaborasi masih menjadi salah satu pendekatan paling dominan di berbagai booth pameran. Namun yang menarik, bentuknya kini tidak lagi terbatas pada kerja sama antar jenama dalam industri yang sama atau setidaknya linear.

Di ARCH:ID, praktik kolaborasi justru terasa lebih luas dan eksperimental. Ada jenama yang bekerja sama dengan seniman, ada yang menggabungkan pendekatan desain spasial dengan pengalaman performatif, hingga menghadirkan booth sebagai instalasi yang terasa lebih dekat dengan karya seni dibanding area komersial.

Kolaborasi antara Viro dan Häfele, misalnya, menunjukkan bagaimana dua jenama dalam ekosistem yang berdekatan dapat membangun pengalaman ruang yang lebih utuh. Di sisi lain, Sofara memilih pendekatan lintas disiplin dengan melibatkan seniman dalam presentasi booth mereka. Fenomena ini memperlihatkan satu hal penting: desain tidak lagi berdiri sendiri sebagai produk akhir. Ia menjadi medium dialog.

Para jenama ini tampaknya mulai menyadari bahwa publik hari ini lebih tertarik pada cerita di balik sebuah kolaborasi dibanding sekadar hasil akhirnya. Ada ketertarikan terhadap proses bertemu, bertukar gagasan, dan bagaimana dua disiplin berbeda saling memengaruhi.

Aktivasi Jadi Bahasa Baru Pameran

Jika dulu booth cukup diisi jajaran produk dan salesman yang sibuk menyapa, kini pendekatannya jauh lebih interaktif. Pameran tampaknya semakin sadar bahwa perhatian pengunjung adalah sesuatu yang harus diperebutkan. Terutama pada event sebesar ARCH:ID, di mana ratusan booth hadir dalam waktu bersamaan, pengalaman menjadi pembeda utama.

Karena itu, banyak jenama mulai menghadirkan aktivasi yang membuat pengunjung ingin singgah lebih lama. CS Laminate menghadirkan coffee bar di siang hari yang kemudian berubah menjadi bar takeover pada malam hari. Himalaya Abadi, yang dikenal lewat produk kacanya, justru menghadirkan booth dengan penjualan es krim, yang sukses membuat pengunjung berhenti sejenak dari padatnya atmosfer pameran.

Sementara itu, Smeg memilih langkah yang lebih sederhana namun efektif dengan menghadirkan stand kopi kecil dibanding membangun booth besar. Quadra bahkan membawa pengalaman produknya langsung ke pengunjung lewat demo memasak menggunakan invisible hob hasil kolaborasi dengan Häfele.

Aktivasi-aktivasi seperti ini memperlihatkan bahwa pengunjung hari ini tidak hanya ingin melihat desain, tetapi juga mengalaminya secara langsung. Produk tidak lagi cukup diposisikan sebagai objek diam. Ia harus hadir dalam situasi nyata, menyentuh kebiasaan sehari-hari, dan membangun memori yang lebih personal.

“Silent Disco” Talk dan Kembalinya Ruang Diskusi

Di tengah hiruk-pikuk pameran, ada satu format yang justru kembali menarik perhatian: sesi talkshow dengan headphone atau yang secara informal disebut “silent disco” talk. Format ini digunakan pada area Alun-Alun ARCH:ID, di mana pembicara dan peserta sama-sama menggunakan headphone agar percakapan tidak terganggu kebisingan area pameran.

Topik-topik yang diangkat sebenarnya cukup serius dan teknis, mulai dari praktik desain hingga regulasi industri, tapi tetap dipadati audiens. Ini membuktikan bahwa di tengah budaya visual dan pengalaman instan yang semakin dominan, ruang diskusi mendalam ternyata tetap dibutuhkan. Keberhasilan format silent disco talk ini juga memperlihatkan bagaimana pameran kini mulai berfungsi sebagai platform pengetahuan, bukan hanya arena transaksi atau branding.

Ruang Istirahat Jadi Bagian Penting Pengalaman

Pameran sering kali dirancang sangat padat secara visual dan aktivitas, tetapi lupa bahwa pengunjung juga membutuhkan jeda. Banyak orang sebenarnya ingin menghabiskan waktu lebih lama di pameran, namun kelelahan karena tidak ada ruang untuk berhenti sejenak. ARCH:ID tahun ini tampaknya cukup sadar akan kebutuhan tersebut, dan menghadirkan Angkringan sebagai area makan dan Tetenger Rehat. Area-area ini bukan hanya tempat makan atau duduk, tetapi menjadi ruang sosial informal di mana orang bisa mengobrol, bertemu kembali dengan kolega, atau sekadar mengamati dinamika pameran.

Menariknya, area seperti ini justru sering menjadi titik pertemuan paling hidup, sehingga di masa depan kemungkinan besar pameran akan semakin banyak menghadirkan “pos rehat” seperti ini. Bukan hanya demi kenyamanan, tetapi karena ritme pengalaman pengunjung kini menjadi bagian penting dalam desain sebuah event.

Ketika Nama-Nama Besar Berbagi Atap yang Sama

ARCH:ID juga menunjukkan bagaimana pameran kini menjadi ruang pertemuan lintas generasi dan pendekatan dalam dunia arsitektur dan desain. Nama-nama besar seperti Andra Matin hadir berdampingan dengan studio dan praktik desain lain seperti Grain and Green milik Jeffry Budiman, FFFAAARRR, hingga Bitte Design Studio.

Kehadiran para arsitek dan desainer ini tidak hanya memperkuat kualitas visual pameran, tetapi juga menciptakan semacam lanskap gagasan dalam satu ruang yang sama. Pengunjung tidak lagi hanya melihat produk, tetapi juga melihat bagaimana tiap studio menerjemahkan pendekatan desain mereka ke dalam pengalaman ruang.

Booth akhirnya terasa seperti perpanjangan cara berpikir. Ada yang sangat material-driven, ada yang bermain pada atmosfer, ada pula yang lebih eksperimental dan artistik. Dalam konteks tertentu, pengalaman berjalan di dalam pameran terasa seperti mengunjungi rangkaian instalasi arsitektur berskala kecil.

Dari berbagai pola yang muncul di ARCH:ID tahun ini, terlihat bahwa pameran sedang mengalami pergeseran fungsi. Ia tidak lagi cukup menjadi tempat memamerkan produk terbaik atau teknologi terbaru. Pameran kini harus mampu membangun pengalaman kolektif.

Kolaborasi, aktivasi, ruang diskusi, area rehat, hingga pendekatan kurasi booth semuanya mengarah pada satu hal: bagaimana membuat pengunjung merasa terlibat. Mungkin di situlah tantangan terbesar industri kreatif hari ini. Bukan hanya menciptakan sesuatu yang menarik dilihat, tetapi menciptakan pengalaman yang ingin diingat.